Semua orang pasti memiliki cerita dalam hidupnya. Baik itu tentang kebahagiaan ataupun kesedihan. Begitupun dengan saya, semua kisah selalu saya tuliskan dalam buku harian ataupun catatan di handphone.
Kali ini akan ku ceritakan perjalanan hidupku saat akan menempuh pendidikan ke Perguruan Tinggi. Hari dimana kekecewaan itu datang. Disaat teman-teman ku saat SMP banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk mengikuti SNMPTN, agar bisa ke terima di universitas negeri impian. Saat itu akupun sangat bersemangat ingin mengikutinya juga. Aku belajar bagaimana caranya agar bisa masuk universitas Negeri impian ku, berbagai macam cara belajar aku lakukan agar semua bisa aku atasi saat nantinya aku akan melewati beberapa tahap untuk bisa memasuki universitas tersebut.
Waktu pendaftaran pun tiba, saat aku mengakses akun untuk bisa mendaftar dari situlah aku merasa sedih, kecewa campur aduk dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan. Ternyata sekolah yang aku duduki tidak terdaftar di akun LTMPT. Aku bicara dengan pimpinan sekolah bagaimana caranya agar aku bisa mengikuti SNMPTN/SBMPTN nantinya. Dan setelah itu, waktu pendaftaran terakhir tiba ternyata akun sekolah ku masih belum terdaftar karena terbilang masih sekolah baru. Dari situ aku sudah putus asa, tidak berharap apapun lagi untuk bisa masuk universitas negeri impianku.
Setelah kekecewaan itu, aku sedikit terobati dengan semangat, nasihat dan motivasi yang selalu orang terdekat berikan kepadaku.
Setelah aku bangkit dan kembali bersemangat, aku mencari informasi melewati media sosial dan orang-orang yang tahu tentang perguruan tinggi. Alhamdulillah ternyata benar, hikmah dari aku gagal mendaftar SNMPTN & SBMPTN pada akhirnya aku didaftarkan oleh teman ibuku di Universitas Djuanda. Setelah aku didaftarkan, dari situ aku mencari informasi seputar Universitas tersebut. Mulai dari fakultas, prospek karir setelah lulus, dan keunggulan apa saja yang ada di Universitas Djuanda.
Dan pada akhirnya pilihan ku jatuh pada fakultas ekonomi program studi manajemen. Karena pada awalnya aku memiliki 2 pilihan yaitu jika tidak masuk ke fakultas psikologi maka pilihan terakhir aku akan masuk ke dalam fakultas ekonomi. Karena cita-cita ku ingin menjadi pengusaha agar bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang sekitarku. Karena yang aku lihat saat ini, banyak lowongan pekerjaan tapi syarat pendidikan yang memberatkan. Jadi, aku ingin menolong orang yang berpendidikan rendah tapi memiliki skill yang meyakinkan sama dengan orang berpendidikan tinggi.
Universitas Djuanda memang bukan pilihanku, bahkan aku tidak tahu bahwa ada Universitas yang mengedepankan nilai-nilai ketauhidan bukan hanya untuk menyongsong kehidupan dunia tapi selalu mengedepankan akhirat. Universitas Djuanda yang saat ini aku tempati untuk menuntut ilmu dan Universitas yang membawaku ke jalan yang lebih baik. Dan aku sangat berterimakasih kepada Allah SWT yang memberikan takdir sangat indah jauh diluar dugaan.
Pembelajaran yang bisa diambil dari kekecewaan ku yaitu setiap manusia pasti memiliki persoalan hidup yang harus di selesaikan dengan sabar dan perlahan pasti akan berbuah manis. Percayalah, Allah maha adil. Dengan didatangkan masalah aku percaya bahwa Allah menyayangi kita. Berarti hal yang tidak berpihak kepada kita itu bukan hal yang baik dan akan ada hal yang terbaik setelah kekecewaan itu. Hadapilah dengan sabar, karena hal besar akan datang kepada orang-orang yang bersabar.